Stasiun di Malam Hari [CERPEN]

4/10/2016 09:51:00 am

 


 Foto: Panoramio.com




Sebuah stasiun kereta di salah satu sudut kota Jogja. Lenggang lewat tengah malam. Hanya ada seorang satpam yang lelah tertidur di kursi jaganya. Para tukang ojek dan becak yang cerewet di pagi hari berkumpul di angkringan depan stasiun. Merokok dan membicarakan penumpang-penumpang ajaib mereka hari itu. Sekumpulan laron ikut bercengkrama seperti mereka namun berbeda tempat. Laron-laron itu lebih suka mengobrol sambil terbang tepat di depan lampu dari pada merokok di angkringan. Stasiun itu benar-benar terasa sepi, tak ada kereta yang datang saat itu. Kereta baru akan datang sekitar satu jam lagi. Tepat pukul 01.00 pagi. Kereta terakhir yang datang dari Jakarta.

Hanya ada sedikit penumpang saat itu. Jumlahnya bisa dihitung hanya dengan satu telapak tangan. Seorang pria yang tertidur dengan selonjoran di kursi tunggu berkerangka besi. Dia nampak sangat lelap dengan carrier bag nya sebagai bantal. Dengkurannya cukup mengganggu para laron. Seorang pria lain, berusia sekitar awal 30an, sedang duduk di kursi tunggu depan pria yang sedang tidur tadi. Dengan kaki kanan disilangkan di atas paha kirinya, tangan kanannya ditumpangkan pada sandaran kursi. Sesekali dia mengecek jam tangan kirinya dengan wajah santai dan terkesan masih segar. Di samping kiri pria itu, tepat di paling ujung dari kursi tunggu yang panjang, seorang wanita duduk tertunduk sambil memeluk ranselnya yang terlihat begitu padat. Sesekali suara isakan terdengar dari arahnya, membuat pria di sampingnya itu menoleh. Namun pria itu tetap tak peduli dan selalu kembali mengecek jam tangannya setelah menoleh.

Suara tawa dan obrolan terdengar samar dari depan stasiun, dari arah sekumpulan tukang ojek dan becak. Lalu suara dengkuran saling bersautan antara si pria yang tertidur di kursi tunggu dan satpam di kursi jaganya yang tepat berada di depan pintu masuk peron. Tak mau kalah suara isakan yang samar terdengar lagi dari arah wanita muda, sekitar 20an awal, lalu diikuti suara helaan nafas. Wanita muda itu mengusap hidungnya yang basah dengan punggung telapak kanannya. Dia tidak sadar dari tadi pria di sampingnya selalu memerhatikannya saat terisak. Masih dengan sedikit isakan, wanita itu membuka ranselnya, mengambil selembar tiket kereta api. Lalu dengan menggumam dia merobek kertas itu sekecil-kecilnya dengan perlahan. Pria di sampingnya, masih santai memandang apa yang wanita itu kerjakan.

Jangan disobekin. Bikin kotor.” Ujar pria itu santai masih dengan gaya duduknya. Tak ada jawaban dari wanita itu. “Hey.... jangan disobekin di sini.”

Sejenak wanita itu berhenti merobeki tiketnya. Namun, suara isakannya makin terdengar jelas, makin kencang, sesenggukan. Membuat pria di sampingnya tadi jadi merasa penasaran.

Kamu kenapa?” Tanyanya ramah dengan sedikit ekspresi cemas, tapi tetap tak merubah posisi duduknya. Wanita itu tak menjawab. “Sakit...?” Tetap tak ada jawaban.

Pria itu sedikit menggeser duduknya, lebih dekat pada wanita muda itu, tapi masih dengan gaya duduk yang sama.

Bukan urusan lo..” Akhirnya, wanita itu mengucapkan sesuatu dengan sedikit terbata karena isakannya.

Jelas urusan ku juga dong.” bantah pria itu tak mau kalah.

Gue bilang bukan urusan lo!” Kali ini nada bicara wanita itu sedikit membentak. Membuat pria di belakang mereka sejenak berhenti mendengkur, merubah posisi tidurnya, lalu mendengkur lagi.

Mbak.....”, Ujar pria itu santai. “Ini tempat tinggal ku, kota ku, mbak sobekin kertas itu, bikin kotor tempat ini, pasti karena sesuatu. Karena nangis mungkin. Atau kesel. Jengkel. Aku gak tau, mbak. Tapi aku mau bantu, dan menjadi urusan ku juga, soalnya aku yakin karena nangis mbak itu, tempat ku jadi kotor.” Wanita itu menoleh pada pria di sampingnya, menatapnya dengan penuh kesedihan. Matanya basah, merah, kuyu. Begitupun dengan hidung dan pipi cantiknya.

Emangnya lo siapa?” Pria itu hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Tak ada sedikit pun wajah kaget atau iba melihat kondisi wanita itu.

Aku warga sini. Warga Jogja.” Jawab pria itu ramah, yang justru membuat wanita tadi kesal dan makin terisak kencang sambil kembali merobeki tiket keretanya yang tinggal setengah. “Lagi nunggu saudara yang mau dateng atau nunggu keberangkatan pagi nanti?” Tanya pria itu mencoba membuka obrolan.

Nggak...” Jawabnya ragu, dengan sendu dan penuh isakan. Tiket kereta yang tadi dirobekinya sudah habis. Dia membuka tas ranselnya lagi dan mengeluarkan selembar tiket lain, lalu mulai merobek seperti sebelumnya. Pria di sampingnya terus memerhatikan dia dengan tenang dan cukup lama, hingga tak terasa sudah tiket keempat yang ia robeki dan sudah reda isakannya.

Mbak tiketnya banyak. Pergi sama siapa aja?” Tanya pria itu lagi, mencoba memulai pembicaraan setelah sedikit tenang.

Nggak ada...”, Jawab wanita itu pelan. “Gue pergi sendiri. Jogja. Jakarta. Jogja. Jakarta.”, Ada sedikit jeda di antara mereka. Kembali suara dengkuran langsung mengisi sepi saat jeda itu. “Udah 3 hari. he...he..he...”

Kayaknya berat banget ya masalahnya. Hahaha.”

Emang.” Jeda terjadi lagi sekitar semenit. Lalu wanita itu mengangkat wajahnya, menoleh ke pria di samping kanannya. “Lo sendiri mau kemana?”

Aku...nggak kemana-mana. Aku emang suka duduk sendiri, merenung di sini kalau malam. Hahaha” Jawab pria itu dengan santai dan penuh tawa kencang.

Udah gue tebak. Soalnya lo gak bawa barang apa-apa.”

Jadi sebenernya mbak sendiri kenapa di sini?”

Gue.....mau pergi”, Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya lagi dengan perlahan. “...ke surga.”

Pria tadi cuma menatapnya diam, tapi masih dengan senyum ramahnya. “Lo nggak kaget?” tanya wanita itu heran saat melihat respon pria di sampingnya.

Hahaha. Nggak lah, ngapain kaget!” Jawabnya penuh tawa.

Gue ini mau bunuh diri, lho. Kenapa lo gak kaget? Lo gak ada niat buat hentiin gue?” Tanya wanita itu penuh dengan rasa penasaran, terpancar dari ekspresi wajahnya.

Kamu berharap ada orang yang mau nyelametin? Yang nahan kamu biar gak jadi bunuh diri?”

Wanita itu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Menarik nafas dalam-dalam lagi, lalu menghembuskannya pelan. “Gue takut....”

Takut apa?”

Takut surga. Takut neraka. Takut kalau nanti Nyokap marah waktu ketemu gue di sana...” Pria itu tak menoleh. Namun matanya melirik wanita itu yang masih menyandarkan kepalanya di sandaran kursi tunggu. Dia melihat air mata mengalir lagi dari mata wanita cantik itu. Namun segores senyum ada di bibirnya. “...Mati itu sakit nggak sih?”

Nggak tau.”

Gue emang berharap ada orang yang berusaha bujuk. Yang bisa ngerubah pikiran gue buat mati.” Isakan mulai terdengar lagi tapi kali ini dengan senyuman, membuat wanita itu terlihat sedikit lebih cantik dari sebelumnya. Begitu pikir pria di sampingnya. “Gue takut mati.”

Jangan mati kalau gitu.”

Terlalu banyak masalah di hidup gue.... Gue kangen Nyokap gue.”

Mereka berdua terdiam. Suara tawa di angkringan tak terdengar lagi. Begitu pula dengan dengkuran pria di belakang mereka.

Masalah akan selalu ada di dalam hidup. Semua orang mengalami itu. Itu bukan alasan buat mati”, Ujar pria di sampingnya sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong celananya.

Kalaupun aku nahan mbak buat nggak bunuh diri, apa mbak yakin nggak akan ada niatan gitu lagi di hari esok?” Kali ini dia berkata sambil memainkan sebatang rokok di tangan kanannya dan memegang korek di tangan kirinya.

Isakannya reda lagi. Tapi air matanya masih mengalir.

Selama ini gue cuma denger cerita soal bidadari di surga.” Katanya sambil memandang kawanan laron yang masih berkumpul pada lampu di atas ia duduk. “Buat cewek, ada gak ya bidadara? Cowok cowok ganteng....cuma pake selembar kain. Badannya sixpack. hehe.”

Si Pria hanya memandang wanita itu. Sangat dalam tepat pada kedua bola matanya.

Menurut lo bidadara itu ada gak?.... Nyokap gue dilayani sama mereka gak ya?”

Nggak tau.”

Wanita itu membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegak. Lalu meletakan ransel yang dari tadi ia peluk di samping kursi tunggunya. Matanya menatap wajah pria di sampingnya. Membuat pria itu menjadi sedikit canggung dan memalingkan pandangannya dari si wanita.

Aku ngerokok ya. Gak apa kan?” Tanya si pria tapi tanpa menunggu jawaban. Dia langsung menyelipkan sebatang rokok yang tadi dia mainkan, lalu membakarnya dengan korek gas berwarna merah yang dari tadi ia genggam. Asap pahit tembakau menghembus lembut dari mulutnya. Seakan ikut membuang segala beban hidup si pria itu. Ia lakukan hal itu beberapa kali untuk mengisi jeda obrolan mereka yang sulit dipahami. “Diem aja berarti 'iya'” Katanya lagi.

Bukannya di sini dilarang merokok?” Tanya si wanita sambil menunjuk sebuah spanduk larangan merokok di tembok ruang tunggu stasiun.

Kenapa mbak peduli, kalau mbak sendiri nyampah.” Jawabnya sambil memandang sobekan sobekan kecil kertas di sekitar wanita itu.

Mbak ngerokok juga?” Tanyanya pada wanita itu yang dijawab dengan gelengan. Namun pria itu justru menyodorkan sebatang rokok yang dari tadi ia hisap padanya.

Dihisap secara perlahan. Mungkin nanti di surga nggak akan ada rokok.”

Wanita itu coba menghisap rokok yang sudah habis setengah. Hisapan pertama, dia terbatuk-batuk. Pria itu cuma tertawa melihatnya. Tak ada niatan untuk mengajarinya lebih detail. Hisapan kedua masih sedikit terbatuk. Hisapan ketiga, ia mulai terbiasa. Namun, tak ada hisapan keempat. Wanita itu hanya diam memandang bara rokok yang ia pegang. Membiarkan angin menjatuhkan abunya jatuh di atas paha sekalnya. Lalu, dengan disaksikan pria itu, ia menempelkan ujung rokok yang membara itu pada punggung jempol kirinya. Lama hingga membuat bau gosong tercium oleh si pria. Ia hanya meringis, namun menikmatinya.

Nggak terlalu sakit. Tapi perih.” ucapnya melihat bekas sundutan rokok yang memperlihatkan daging putih di punggung jempolnya itu.

Mungkin mati nggak akan sesakit itu....” Kata pria di sampingnya. “atau bisa lebih sakit. Nggak tau deh.”

Paling nggak, kalau gue nabrakin diri ke kereta nggak akan ngeluarin bau gosong.” Katanya sambil menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. “Mungkin... barusan itu adalah tarikan nafas panjang gue yang terakhir.”

Dia berdiri dari duduknya, mengambil ransel yang tadi ia letakan pada samping kursi tunggu. Lalu membuka resleting ranselnya dan mencari-cari sesuatu. Pria di sampingnya hanya memandangnya dalam diam yang sangat dingin. Ia mengeluarkan sebuah buku dan pulpen, menulis sesuatu pada salah satu lembar halamannya. Mungkin sebuah surat wasiat atau surat cinta untuk idola. Entahlah. Pria itu pun enggan untuk bertanya.

Gue mau minta tolong sama lo.” Ucapnya sambil menyerahkan buku yang tadi ia pegang dan juga dompet tebalnya pada pria tadi. Pria itu cuma menerimanya tanpa sepatah kata apapun.

Sebentar lagi keretanya dateng. Makasih udah mau nemenin gue di waktu terkahir gue ini.” Sedikit membungkukan badannya, wanita itu mencium pipi kiri si pria dengan bibirnya yang basah oleh air mata. Isakan kembali terdengar darinya, namun dia berusaha untuk menahannya. Berkali-kali juga ia usap air matanya dengan telapak tangan kirinya yang perih karena luka yang terbuka. “Makasih” Ujarnya terkahir kali.

Ia meninggalkan si pria itu duduk sendirian memandangi buku dan dompet yang baru saja ia berikan. Wanita muda itu menyelinap masuk ke peron tanpa hambatan. Hanya diganggu oleh suara dengkuran. Dia sudah masuk ke dalam peron. Bayangannya hilang di balik pintu peron. Pria itu kini sendiri. Memandangi barang-barang yang wanita itu tinggalkan dengan tanpa ekspresi sekalipun. Ia mengeluarkan sebatang rokok lagi, yang langsung ia selipkan pada bibir tebalnya. Api membakar ujung gulungan tembakau itu. Ia hisap asap pahitnya. Tak dihembuskan lagi ke luar. Ia telan asapnya. Membuat tubuhnya hangat di tengah dinginnya kota Jogja.

Suara pengumuman berkumandang ke seluruh penjuru stasiun. Memberitahukan pada siapapun yang mau mendengarkan, bahwa akan ada sebuah kereta datang dari arah barat. Ia memohon pada seluruh orang, siapapun itu, untuk berdiri di belakang garis aman. Pengumuman itu selesai. Suara kereta yang gagah dan bergemuruh terdengar samar. Makin lama makin keras. Makin memasuki stasiun klaksonnya berbunyi keras dan panjang. Membangunkan si pria dan satpam yang dari tadi tidur. Dari dalam peron terdengar suara teriakan beberapa orang, mungkin satpam yang berjaga. Namun terdengar begitu histeris dan panik. Diikuti suara decitan rem kereta yang begitu mengganggu telinga.

Teriakan panik dan minta tolong menggema di seluruh sudut peron. Membuat satpam yang tadi tertidur di depan pintu peron ikut panik. Begitupun si pria yang tadi tertidur. Panik dan penasaran, ia masuk ke dalam peron. Meninggalkan ruang tunggu dalam keadaan kosong dan sepi. Tak ada seorangpun selain dingin yang menyelimuti dan berpura-pura mengisi kursi-kursi kosong itu. Di salah satu kursi tunggu, sobekan-sobekan kertas berserakan di bawahnya. Di kursinya sendiri ada sebuah ransel padat yang resletingnya terbuka. Di sampingnya sebuah buku dan dompet tergeletak. Sebatang rokok yang masih menyala tiba-tiba terjatuh di dekat sobekan-sobekan kertas tadi. Asapnya berdansa bersama hawa dingin malam. Sedangkan apinya, perlahan mengikis kehidupan.

You Might Also Like

0 comments