Film Surat Kecil Untuk Tuhan Balik Lagi, Bikin Emosi

6/21/2017 02:51:00 pm



Akhirnya gue kembali lagi menulis di blog ini. Udah lama banget rasanya nggak kemari. Kalau gue beralasan jarang update blog karena sibuk, mungkin sebagian dari lo yang baca nggak akan percaya. 

"Iyalah, jomblo kayak lo mau sibuk ngapain? Mainan tinder di malem minggu buat dapetin jodoh?"

Bener sih. Itu salah satu kesibukan gue. Tapi sumpah, nggak cuma itu. Banyak banget kegiatan kampus yang lagi dan akan gue jalani hingga setahun ke depan. Bahkan hingga lulus. Kegiatan kampus ini ya semisal tugas dan proyekan. Fyi, dalam waktu dekat gue akan merilis dua karya baru. Tunggu aja tanggal mainnya. Hehehe.

Tapi di post kali ini gue nggak akan ngebahas kesibukan kampus gue ataupun karya yang akan gue rilis. Pada kesempatan kali ini gue mau cerita soal Primer film terbaru. Eh, gimana sih nulisnya? Premiere atau Primer? Primer aja deh ya, menggunakan ejaan Indonesia. Hahahak!

Jadi, hari selasa tanggal 20 Juni kemarin gue mendapatkan kesempatan untuk hadir di Primer film terbaru Falcon Pictures, Surat Kecil Untuk Tuhan. Ya, bener. Gue, seorang mahasiswa bokek yang bahkan download film bajakan aja nggak mampu karena nggak punya kuota, diundang nonton film secara gratis, eksklusif pula. Duh, rasanya seneng banget. Senengnya itu kayak akhirnya Raisa mau ngasih id Linenya ke gue. Meskipun yang dikasih id official Account juga.

Jelas ini bukan jari gue.

Gue dan beberapa teman Mahasiswa Polimedia diundang untuk hadir di Gala Premier Surat Kecil Untuk Tuhan di CGV Blitz Grand Indonesia. Bareng-bareng nonton film sebelum film itu rilis secara umum. Dan lagi acaranya dihadiri All Cast dari film itu sendiri. Ini artinya makin besar kesempatan gue untuk bisa memeluk Aura Kasih ataupun cium tangan BCL. Secara, jarak para cast dengan pengunjung atau tamu undangan kan deket banget kalau lagi acara seperti ini. Tapi niat itu gue urungkan. Gue takut kalo dipitting sama segerombolan security bermuka sangar dengan codet melingkar di pipi kanan dan kiri (Security apa ninja hatori?), atau yang paling parah lagi, ditendang sama Joe Taslim, atlit beladiri nasional dan pemain film The Raid yang hampir ngalahin Mad Dog, sampe ke Tasikmalaya.

Acara udah mulai dari jam 7, gue dan temen gue, yang sebenernya dengan berat hati gue ajak karena sebenernya ternyata ini anak malu-maluin banget (Gimana nggak malu-maluin kalau lo ngajak orang yang waktu di lobi bioskop liat poster film aja teriak-teriak kegirangan kayak anak umur 10 tahun yang nemu cangkang keong). Ya, jadi gue dan temen gue yang sebut aja namanya Tomi, bukan nama sebenarnya, dateng duluan ke acaranya berdua. Nontonin pementasan dari anak-anak kecil yang nyanyi dan penyambutan para cast dan sutradara film yang turun secara eksklusif dari eskalator.



Nggak terlalu banyak ambil foto rangkaian acara. Hape low dan gk bawa kamera:(

Sehabis itu ada sedikit bincang-bincang antara MC dan all cast serta kesempatan para penggemar untuk berfoto. Pukul 7.40 kalo nggak salah, semua tamu undangan udah dipersilahkan untuk masuk ke studio karena film akan segera diputar. Di tiketnya sih film bakalan mulai pukul 19.50. Tapi ternyata sampai 20.10 film belum juga dimulai. Menurut gue dan temen gue yang mencoba positif thinking(Bukan Tomi, gue udah bertemu dengan beberapa orang teman lainnya yang lebih normal) mungkin, keterlambatan ini karena ngerendernya belum selesai. Tapi akhirnya kami digampar sama temen yang lain karena spekulasi aneh tersebut.

Setelah menunggu, akhirnya film diputar. Gue yang udah pernah nonton film Surat Kecil Untuk Tuhan di versi sebelumnya, rilis tahun 2011, bener-bener nggak sabar buat ngeliat, apakah BCL dan Joe Taslim berhasil bikin gue nangis kali ini? Jujur, sewaktu nonton film SKUT yang diperankan oleh Dinda Hauw, gue berkaca-kaca. Berkaca-kaca, ya, bukan nangis. Gue inget banget waktu itu di 21 Kelapa Gading, gue nonton dengan seorang cewek yang sekarang sudah menikah dengan cowok lain. Dan di film SKUT yang sekarang, gue menonton dengan Tomi, seorang mahasiswa hiperaktif berbadan krempeng yang percaya kalau nama asli Wolverine itu Lohan. Benar-benar menyedihkan.

Okey, gue nggak akan menyebut ini review dan nggak akan terlalu memberi banyak bocoran. SKUT kali ini ceritanya beda banget sama SKUT versi 2011. Tapi, keduanya sama-sama menguras emosi. Serius. Di SKUT yang dibintangi BCL kali ini, ceritanya tentang dua saudara, Angel dan Anton, yang mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga, lalu kabur ke Jakarta. Di Jakarta, mereka malah ketemu sama Om Rudi, seorang tokoh yang hobinya ngoleksi anak-anak jalanan untuk dirawat, dikasih tempat tinggal dan makan. Kesannya baik ye? Padahal nggak begitu. Untuk mendapatkan tempat tinggal dan makan, anak-anak itu harus ngikutin semua peraturan yang diterapkan sama Om Rudi. Mereka harus bekerja, ngamen kek, ngemis kek dan harus ngasih setoran ke Om Rudi. Kalau nggak, habis lah anak-anak ini dihajar sama Om Rudi. Dicambuk, disetrika. Kelakuan Om Rudi ini biadab banget deh pokoknya. Gue sebagai pria serem yang berhati lembut, jadi emosi sendiri ngeliat sosok Om Rudi ini.

Angel dan Anton

Pokoknya, suatu saat si adik bernama Angel ini mengalami kecelakaan. Dan karena Om Rudi, Angel dan Anton harus berpisah. Padahal Anton adalah satu-satunya hal berharga yang dimiliki Angel di dunia ini. Angel dan Anton saling menyayangi banget. Gimana Angel nggak sayang, kalau punya kakak kayak Anton. Baik, penyayang, lemah lembut. Gue aja merasa gagal menjadi seorang kakak setelah melihat sosok Anton ini. Nah, puncak drama terjadi 15 tahun setelahnya, saat Angel sudah dewasa dan cantik. Saat dia mencari kakaknya, Anton.

Menurut gue semua cast di film ini bermain sangat total. Keren. Nggak cuma BCL, Joe Taslim, dan Lukman Sardi aja yang total. Cast pemeran anak-anak di sini juga gokil sih. Kadang gue dibawa gemes, kadang dibawa sedih dan pengen bilang "Yaampun, sini peluk dulu. Kakak akan jaga kamu." sambil berlinang air mata.

Fajar Bustomi sebagai sutradara cukup gokil dalam menyajikan film ini ke penonton. Dari awal film mulai, kita udah dihantam sama adegan-adegan yang menguras emosi dan menyedihkan. Ngebawa kita untuk ikut hadir dalam setiap adegan di dalamnya. Membuat kita ikut terbawa suasana dan jadi seperti ibu-ibu yang selalu komentar pada seorang tokoh "Ini, Om Rudi ngeselin banget sih! Pengen gue colok pake wortel deh idungnya!" Kurang lebih begitu.

Saat film selesai dan lampu studio dinyalakan, banyak penonton di sekitar gue ngusap-ngusap matanya yang merah dan basah. Gue yakin mereka terbawa suasana film dan menangis. Bukan karena lagi sakit mata atau kecolok popcorn. Sayangnya, gue sendiri gagal berkaca-kaca untuk film kali ini. Nggak seperti di film SKUT yang sebelumnya, kali ini gue lebih banyak kebawa emosinya sebagai kesel dan sebel sama Om Rudi. Bukan kebawa emosi untuk membasahi pipi.

Sebagai teman liburan lo di libur lebaran kali ini, menurut gue film ini cocok banget. Film ini bisa membuat hati lo tergugah untuk nggak asal bicara, saling menghargai orang lain, dan untuk menyayangi anak-anak di bawah umur. Nggak selayaknya anak-anak di bawah umur bekerja secara kasar, keras, dan dipaksa. Di umur mereka, seharusnya mendapatkan pendidikan dan waktu untuk berekspresi atau bermain yang layak. Bukannya kerja di jalanan. Setelah menonton film ini, gue keingetan sesuatu, kayaknya sebagai mahasiswa, jika ada kesempatan, gue harus lebih sering membantu anak-anak seperti ini. Memberikan mereka pendidikan dan ruang berekspresi. Ya meskipun ilmu gue belum tinggi-tinggi banget, seenggaknya gue punya sesuatu yang bisa dan harus dibagi.

Okey, Jadi untuk film SKUT kali ini gue memberikan 3.5 dari 5 bintang. Layak untuk ditonton bersama keluarga, jadi jangan lupa nonton di bioskop kesayang lo mulai 25 Juni 2017. Ajak keluarga besar lo buat Lebaran di Bioskop! Biar nggak penasaran, gue kasih cuplikan dari film Surat Kecil Untuk Tuhan, nih.



You Might Also Like

1 comments

  1. Sebenernya gua berharap versi ini sama kayak skut yang sebelum nya, tapi setelah nonton trailer nya ya boleh juga. Oh iya, besok-besok gua kirimin pulsa deh, biar bisa download film di layar kaca 21 ya

    ReplyDelete